ISI

Banjir Bandang Sumatra AkhirNovember 2025 Antara Cuaca Ekstrem, Kerusakan Ekosistem, dan Kegagalan Kebijakan Publik 

Penulis :M.Rifky Dwi Poetra mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang

1-December-2025, 18:21


Akhir November lalu, Sumatra seperti berubah menjadi pulau yang tidak pernah tidur. Hujan turun terus-menerus seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan langit kepada kita. Air turun dari pagi, berganti jadi deras, kemudian jadi hujan lebat yang seperti dicurahkan sekaligus. Orang-orang yang tinggal di Aceh, Sumut, sampai Tapanuli tidak sedang menghadapi hujan biasa. Mereka menghadapi hujan yang lahir dari siklon tropis yang entah bagaimana bisa ji muncul di Selat Malaka—sesuatu yang jarang terjadi, tapi sekali muncul langsung menyapu begitu banyak kehidupan.

jembatan itu putus saat banjir deras melanda wilayah itu pada Rabu (26/11/2025), di jalan utama yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Jumat 28 November 2025.

Banjir yang datang kali ini beda rasanya. Bukan hanya soal air yang naik cepat, atau sungai yang meluap. Tapi lebih pada kejutan yang membuat semua orang tidak punya waktu untuk berpikir. Dalam satu malam, rumah yang sudah puluhan tahun berdiri tiba-tiba hanyut. Sawah penuh lumpur, jembatan patah, jalan terputus, listrik padam. Banyak keluarga terpisah, banyak yang mengungsi dengan pakaian seadanya, dan banyak yang tak sempat menyelamatkan apa pun.

Yang paling menyakitkan, berita tentang meninggalnya puluhan orang bertambah menjadi ratusan hanya dalam beberapa hari. Seolah kita membaca angka, bukan manusia. Padahal, setiap angka itu punya cerita, punya keluarga, punya rutinitas, punya rencana yang tidak pernah sempat dijalankan.

Banjir Sumatra kali ini memang dipicu cuaca ekstrem. Hujan yang turun bukan hujan biasa; curahnya jauh di atas normal, bahkan untuk wilayah yang memang sering hujan sekalipun. Tapi kalau kita jujur, hujan bukan satu-satunya alasan banjir berubah jadi bencana besar. Alam sebenarnya selalu memberi tanda, tapi kita seperti pura-pura tidak lihat.

Selama bertahun-tahun, hutan di hulu ditebang. Sungai disempitkan, bukit dikikis, tanah digali untuk tambang legal maupun ilegal. Daerah yang seharusnya menjadi tempat air meresap malah dijadikan perkebunan dan pembangunan. Akibatnya, saat hujan turun deras, air tidak punya tempat untuk berhenti atau meresap. Ia Cuma punya satu pilihan: lari ke hilir secepat dan sebanyak mungkin.

Dan begitulah akhirnya kampung yang jauh dari hulu pun ikut dihantam. Air datang tanpa kompromi, membawa batang kayu, lumpur hitam, serta berbatuan dari atas gunung. Banyak orang bilang, “Bukan pertama kali ini terjadi.” Memang benar. Tapi jarang yang mau bertanya: kenapa sekarang dampaknya semakin parah?

Jawabannya sederhana tapi pahit: “karena kita sendiri yang membuat alam kehilangan daya tahan”

Bayangkan hutan di pegunungan dulu seperti spons raksasa. Ia menahan air, menyimpannya perlahan, dan melepasnya dengan ritme tertentu. Ketika spons itu hilang atau rusak, air yang sama akan langsung turun tanpa rem. Kita bisa menyalahkan hujan, tapi spons itu yang hilang karena kita. Dan itu fakta yang mau tak mau harus diakui.

Di beberapa titik banjir, warga bahkan bercerita kalau sebelum air datang, mereka mendengar suara gemuruh seperti suara benda besar jatuh berkali-kali. Ternyata itu suara tanah longsor, pohon-pohon tumbang, dan batu-batuan besar yang turun dari bukit. Kadang longsor terjadi lebih dulu, kadang banjir duluan, kadang dua-duanya datang bersamaan. Rasanya seperti dua bencana yang saling bergandengan tangan.

Yang bikin hati tercekat, banyak dari longsoran itu bukan sekadar “longsor alami”. Tanahnya sudah lama rapuh karena penebangan atau pertambangan. Begitu hujan turun sedikit lebih deras dari biasa, semuanya langsung runtuh.

Kalau membuka berita, kita bisa lihat laporan tentang perusahaan yang dituding merusak hutan, tambang ilegal yang menutup mata akan dampak lingkungannya, dan izin-izin lahan yang diberikan tanpa mempertimbangkan analisis risiko. Tetapi jujur saja, publik hanya marah sebentar, lalu hidup berjalan lagi. Sampai banjir berikutnya datang, kita ulang lagi siklus yang sama.

Padahal, bencana seperti ini seharusnya jadi pengingat yang paling keras. Pengingat agar pemerintah tidak hanya “meninjau lokasi”, “membagikan bantuan”, atau “mengevakuasi warga”. Tentu itu semua penting, tapi itu hanya menjawab masalah hari ini. Pertanyaannya: bagaimana dengan besok?

Kalau hanya menambal lubang setelah kejadian, kita tidak pernah betul-betul menyelesaikan apa pun. Kita seperti orang yang menampung air dari atap bocor dengan ember, tapi tidak pernah benar-benar memperbaiki atapnya.

Yang juga jarang dibahas adalah bagaimana bencana seperti ini meninggalkan luka yang tidak terlihat. Anak-anak yang kehilangan sekolah selama berminggu-minggu akan merasakan dampaknya dalam jangka panjang. Orang tua yang kehilangan ladang harus memulai hidup dari nol. Mereka yang kehilangan anggota keluarga mungkin tidak akan pernah pulih sepenuhnya.

Saya teringat cerita seorang ibu dari Tapanuli yang diwawancarai media. Ia kehilangan rumah, dan saat ditanya apa yang paling ia ingin selamatkan sebenarnya, ia menjawab sambil menangis pelan, “Surat-surat sekolah anak saya. Semua hilang dibawa banjir.” Tentu saja nyawa dan keselamatan lebih penting, tapi jawaban itu menunjukkan bahwa bencana tidak hanya mengambil harta benda, tapi juga harapan.

Banjir tahun ini juga tidak hanya merusak infrastruktur manusia. Banyak satwa liar ikut mati, termasuk spesies langka seperti gajah Sumatra yang ditemukan tertimbun lumpur. Habitat mereka rusak. Sungai tempat mereka minum berubah jadi arus deras yang tidak bisa lagi dikenali. Alam kehilangan keseimbangannya, dan manusia mendapat efek baliknya.

Kalau kita bicara solusi, banyak orang spontan menyebut—bangun tanggul, perbaiki sungai, tambah drainase. Semua itu baik, tapi hanya sebagian kecil dari yang benar-benar dibutuhkan.

Yang kita butuh kan justru jauh lebih mendasar: memperbaiki hubungan kita dengan alam.

Restorasi hutan harus dimulai kembali, bukan hanya sekadar menanam 1000 bibit lalu difoto, tetapi benar-benar merawat kawasan hulu sampai pulih. Pemerintah harus lebih tegas terhadap pelanggaran lingkungan. Tidak ada lagi kompromi terhadap oknum, karena setiap “kompromi” itu pada akhirnya dibayar mahal oleh orang-orang yang tidak salah apa-apa.

Kita juga perlu memperkuat sistem peringatan dini yang benar-benar bisa diakses masyarakat desa. Banyak warga yang bahkan tidak tahu bahwa siklon tropis sudah terdeteksi dan diprediksi membawa hujan ekstrem. Informasi seperti itu tidak boleh berhenti di instansi, tapi harus sampai kepada warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng bukit.

Dan hal yang paling penting: jangan menunggu bencana berikutnya baru bergerak.

Alam tidak pernah meminta banyak. Ia hanya butuh dihargai dan dijaga. Ketika kita merusaknya, ia akan memperingatkan. Tapi kalau peringatan itu tidak kita dengar, ia tidak punya pilihan lain selain bereaksi.

Banjir Sumatra bukan hanya bencana. Ia adalah pesan. Pesan yang disampaikan dengan cara yang paling pahit adalah kehilangan.

Semoga setelah ini kita tidak hanya berkata, “Semoga tidak terjadi lagi,” tapi benar-benar mencegahnya. Karena kalau kita tetap seperti sekarang, air hanya menunggu waktu untuk datang kembali dan menerjang kehidupan yang sudah susah payah kita bangun.

Bagikan ke :
Share on Facebook Share on Google+ Tweet about this on Twitter Email this to someone Share on LinkedIn Pin on Pinterest

BERITA TERKINI

INVESTIGASI

BERITA SEBELUMNYA

BANYU ASIN 1-October-2026, 19:46

PANEN RAYA PADI IP 100 BUPATI BANYUASIN PERKUAT KETAHANAN PANGAN

BANYU ASIN 1-October-2026, 19:45

BPKAD BANYUASIN BAHAS PERATURAN PERUBAHAN STANDAR BIYAYA 2026

BANYU ASIN 1-October-2026, 09:55

BANYUASIN TINGKATKAN PRODUKSI PADI NOMOR SATU DI INDONESIA

LAHAT - 30-September-2026, 16:59

Polres Lahat Raih KPPN Lahat Award 2026, Catat Nilai IKPA Terbaik Kategori Pagu Besar

MUBA - 30-September-2026, 16:58

HUT ke-70 Muba, Bupati Toha Tegaskan Pembangunan Harus Berujung pada Kesejahteraan

LAHAT - 30-September-2026, 16:56

Tabrakan Antara Mobil Dump Truck VS Bus PT AMM

PALEMBANG - 30-September-2026, 12:54

𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐀𝐫𝐚𝐟𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢 𝐊𝐏𝐈𝐃 𝐒𝐮𝐦𝐬𝐞𝐥, 𝐃𝐨𝐫𝐨𝐧𝐠 𝐑𝐚𝐝𝐢𝐨 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚𝐩𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐄𝐫𝐚 𝐃𝐢𝐠𝐢𝐭𝐚𝐥

LAHAT - 30-September-2026, 12:36

Mahendra Reza Wijaya Polisikan Sariyono Terkait Pencemaran Nama Baik dan UU ITE

PALEMBANG - 29-September-2026, 19:44

PERHAPI SUMSEL APRESIASI KEBIJAKAN KEMENTERIAN ESDM, IMBAU PEMEGANG IUP GUNAKAN IUJP LOKAL

LAHAT - 29-September-2026, 13:05

Peredaran Ganja di Kikim Selatan Diungkap, Satresnarkoba Polres Lahat Aman TSK Berikut BB 22 Paket 

LAHAT - 29-September-2026, 12:37

Ketua PW GNPK RI Sumsel Angkat Bicara Maraknya LSM Datangi Proyek APBD Lahat 

LAHAT - 29-September-2026, 12:08

Aksi Demo JAKSI ke-Kejari Massa 10 Orang, Aprizal Muslim: Massa Demo dari Kalangan Tukang Ojek

LAHAT - 28-September-2026, 21:36

Warga Pseksu Kikim Sumringah, Jalan Idaman Akhirnya Terwujud, Terima Kasih Bupati Bursah

MUARA ENIM - 28-September-2026, 21:36

TO Ops Sikat I Musi 2026 Dibekuk Polsek Rambang, Pria 50 Tahun Diamankan Terkait Pencurian

LAHAT - 28-September-2026, 20:09

Jalan Menuju Megalit Dilebarkan, Warga: Terima Kasih Bupati Dan Wabup Lahat

LAHAT - 28-September-2026, 18:42

Hadiri Seminar Buruh Sawit, Wabup Lahat Widia Berkomitmen Perkuat Perlindungan dan Kesejahteraan Pekerja

BANYU ASIN 28-September-2026, 18:41

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUASIN SIAPKAN DATA PEMERIKSAAN GWPP

LAHAT - 28-September-2026, 18:41

Dua Pelaku Terduga Pencuri Kabel Mesin Motor Grader Berhasil Dicokok Tim Jagal Bandit Polres Lahat

LAHAT - 28-September-2026, 18:33

Terkait Aksi Pemukulan Terhadap Saipul Alamsyah Oleh Security PT ALR, Ini Penjelasan Kapolsek Merapi Barat

MUBA - 28-September-2026, 13:58

Pemkab Muba Pacu Persiapan Lahan Tambahan Tol Betung–Tempino–Jambi

JAKARTA - 28-September-2026, 10:01

𝐁𝐚𝐰𝐚 𝐊𝐞𝐫𝐚𝐣𝐢𝐧𝐚𝐧 𝐄𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐋𝐚𝐰𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞 𝐏𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐍𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥, 𝐊𝐞𝐭𝐮𝐚 𝐓𝐏-𝐏𝐊𝐊 𝐊𝐚𝐰𝐚𝐥 𝐒𝐭𝐚𝐧𝐝 𝐊𝐫𝐢𝐲𝐚𝐧𝐮𝐬𝐚 𝟐𝟎𝟐𝟔 

LUBUK LINGGAU - 28-September-2026, 09:58

PKPA IAI Silampari–PERADI Lubuklinggau Selesai, Peserta Siap Ikuti Ujian Profesi Advokat 

LAHAT - 27-September-2026, 22:28

Pecah Rekor! 64 Tim Ramaikan Penutupan Domino Piala Panglima TNI di Lahat

PALEMBANG - 27-September-2026, 20:21

Tiga Hari Operasi Sikat I Musi 2026, Polda Sumsel Ungkap 172 Kasus 

LAHAT - 27-September-2026, 18:50

Satresnarkoba Polres Lahat Cokok AS Dijalan Penghijauan Amankan BB 7,70 Gram Sabu 

CATATAN SRIWIJAYA

  • Catatan Sriwijaya 26-November-2023, 22:50

    DETERMINASI POLITIK TERHADAP HUKUM

    Oleh Burmansyahtia Darma,S.H.

    Muara Enim - Pemilihan Calon Legislatif atau yang trend nya Calon Anggota D

  • Catatan Sriwijaya 18-April-2020, 07:17

    CORONA & RAMADHAN : Sehari Saja

    Oleh : oleh Burmansyahtia Darma,S.H

    Indonesia menjadi salah satu negara yang terjangkit penyebaran Virus Covid-

APA dan SIAPA

FACEBOOKERS SRIWIJAYA ONLINE